showpageArea a { text-decoration:underline; } Fandy Fendo: TUGAS 4 AUDITING I_KERTAS KERJA AUDIT

Rabu, 21 November 2012

TUGAS 4 AUDITING I_KERTAS KERJA AUDIT

Share on :

BAB I
PENDAHULUAN
A.           LATAR BELAKANG
Kertas kerja (working paper)merupakan mata rantai yang menghubungkan catatan klien dengan laporan audit. Oleh karena itu, kertas kerja merupakan alat penting dalam profesi akuntansi publik. Dalam proses auditnya, auditor harus mengumpulkan atau membuat berbagai tipe bukti untuk mendukung simpulan dan pendapatnya atas laporan keuangan auditan. Untuk kepentingan pengumpulan dan pembuatan bukti itulah auditor membuat kertas kerja, kertas kerja memberikan panduan bagi auditor,dalam penyusunan kertas kerja audit atas laporan keuangan atau perikatan audit lainnya, berdasarkan seluruh standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntansi Indonesia.
Kertas kerja audit (KKA) merupakan media yang digunakan auditor untuk mendokumentasikan seluruh catatan, bukti dan dokumen yang dikumpulkan dan simpulan yang dibuat auditor dalam setiap tahapan audit. Kertas kerja audit akan berfungsi mendukung laporan hasil audit. Begitu pentingnya KKA ini sehingga KKA harus dijaga mutunya melalui proses review secara berjenjang.

B.            RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasi permasalahannya, yaitu:
1.    Bsgsimsns konsep kertas kerja?
2.    Bsgsimsns kepemilikan kertas kerja dan kerahasiaan informasi dalam kertas kerja
3.    Faktor-faktor apa saja yang harus diperhatikan auditor dalam pembuatan kertas kerja yang baik
4.    Apa saja tipe kertas kerja?
5.    Bagaimana metode dan faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam pemberian indeks kerja?
6.    Bagaimana susunan dan pengarsipan kertas kerja?



BAB II
PEMBAHASAN

A.           KONSEP KERTAS KERJA
1.    Definisi Dan Fungsi Kertas Kerja
Auditor harus mengumpulkan berbagai jenis bukti untuk mendukung kesimpulan hasil audit yang disajikannya dalam laporan hasil audit. Bukti yang dikumpulkan itu harus didokumentasikan dengan baik. Dokumen yang dimaksud kertas kerja audit (working papers), memuat rekaman kegiatan audit yang dilakukannya selama melaksanakan audit. Disamping berfungsi sebagai media mendukung kesimpulan hasil audit, kertas kerja juga berfungsi sebagai:
a.    Jembatan/mata rantai yang menghubungkan antara catatan klien dengan laporan hasil audit.
b.    Media bagi auditor untuk mempertanggungjawabkan prosedur/langkah audit yang dilakukannya sehubungan dengan penugasan yang dijalankan
c.    Media untuk mengkoordinir dan mengorganisasi semua tahap perencanaan sampai pelaporan
d.   Dokumen yang dapat memberikan pedoman bagi auditor berikutnya yang melakukan penugasan audit pada instansi/satuan kerja yang sama.
Kertas kerja didefinisikan sebagai catatan-catatan yang diselenggarakan oleh auditor mengenai prosedur audit yang ditempuh, pengujian yang dilakukan, informasi yang diperoleh, dan simpulan yang dibuatnya sehubungan dengan pelaksanaan penugasan audit yang dilakukannya.

2.    Isi Kertas Kerja
Kertas kerja audit meliputi semua berkas yang dibuat mulai dari perencanaan sampai dengan komsep laporan hasil audit, antara lain terdiri dari: program audit, hasil pemahaman, terhadap pengendalian intern, memorandum, surat konfirmasi, pernyataan dari klien, ikhtisar dan salinan/cipy dari dokumen yang dikumpulkan, daftar atau komentar yang dibuat atau diperoleh auditor, daftar laporan hasil audit, dan sebagainya. Kertas kerja tidak hanya berwujud kertas, tetapi dapat pula berupa pita magnetis, film, atau media yang lain. Kertas kerja berupa salinan/copy dokumen audit diberi cap “COPY SESUAI ASLINYA,DIBERIKAN UNTUK AUDITOR “ dan ditandatangani/paraf oleh petugas/counterpartyang ditugaskan manajemen.
Secra lebih rinci dokumen yang terdapat pada KKA harus meliputi aspek-aspek berikut :
a.    Perencanaan
b.    Pengujian dan evaluasi terhadap kecukupan dan efektivitas system pengendalian internal
c.    Prosedur audit yang dilakukan, informasi yang diperoleh, analisa yang dibuat dan kesimpulan yang dicapai oleh auditor
d.   Review atas KKA
e.    Pelaporan hasil audit
f.     Monitoring tidak lanjut terhadap hasil audit

3.    Tujuan Kertas Kerja
Ada berbagai tujuan pembuatan kertas kerja. Empat tujuan penting pembuatan kertas kerja adalah untuk:
a.    Mendukung pendapat auditor atas laporan keungan auditan
b.    Menguatkan simpulan-simpulan auditor dan kompetensi auditnya
c.    Mengkoordinasi dan mengorganisasi semua tahap audit
d.   Memberikan pedoman dalam audit berikutnya

B.            KEPEMILIKAN KERTAS KERJA DAN KERAHASIAAN INFORMASI DALAM KERTAS KERJA
SA Seksi 339 kertas kerja paragraph 06 mengatur bahwa kertas kerja adalah milik kantor akuntan publik, bukan milik klien atau milik pribadi. Namun, hak kepemilikan kertas kerja oleh kantor akuntan publik masih tunduk pada pembatasan-pembatasan yang diatur dalam aturan etika kompartemen akuntan publik yang berlaku, untuk menghindari penggunaan hal-hal yang bersifat rahasia oleh auditor untuk tujuan yang tidak semestinya.
Kertas kerja yang bersifat rahasia berdasarkan SA Seksi 339 paragraf 08 mengatur bahwa auditor harus menerapkan prosedur memadai untuk menjaga keamanan kertas kerja dan harus menyimpannya sekurang-kurangnya 10 tahun. Aturan etika kompartemen akuntan publik memuat aturan yang berkaitan dengan kerahasiaan kertas kerja.
Aturan etika 301 berbunyi sebagai berikut:
Anggota kompartemen akuntan publik tidak diperkenenkan menggunakan informasi klien yang rahasia tanpa persetujuan dari klien
Hal-hal yang dapat membuat auditor memberikan informasi tentang klien kepada pihak   lain adalh:
1.    Jika klien tersebut menginginkannya
2.    Jika misalnya praktek kantor akuntan dijual pada akuntan publik lain, jika kertas kerjanya diserahkan pada pembeli harus atas seijin klien
3.    Dalam perkara pengadilan
4.    Dalam program pengendalian mutu, profesi akuntan publik dapat menetapkan keharusan untuk mengadakan peer review diantara sesame akuntan publik. Untuk mereview kepatuhan auditor terhadap standar auditing yang berlaku, dalam peer review informasi yang tercantum dalam kertas kerja diungkapkan kepada pihak lain (kantor akuntan publik lain) tanpa memerlukan ijin dari klien yang bersangkutan dengan kertas kerja tersebut.

C.           FAKTOR-FAKTOR YANGHARUS DIPERHATIKA OLEH AUDITOR DALAM PEMBUATAN KERTAS KERJA YANG BAIK
Kecakapan teknis dan keahlian professional seorang auditor harus independen akan tercermin pada kertas kerja yang dibuatnya dan dapat menghasilkan kertas kerja yang bermanfaat, untuk memenuhi tujuan ini ada 5 faktor yang harus diperhatikan:
1.    Lengkap
2.    Teliti
3.    Ringkas
4.    Jelas
5.    Rapi

D.           TIPE KERTAS KERJA
Kertas kerja terdiri dari berbagai macam yang secara garis besar dapat dikelompokkan dalam 5 tipe kertas kerja berikut ini:
1.    Program audit
2.    Working trial balance
3.    Ringkasan jurnal adjustment
4.    Skedul utama
5.    Skedul pendukung

E.            METODE DAN PEMBERIAN INDEKS PADA KERTAS KERJA
1.    Metode Pemberian Indeks Kertas Kerja
Ada  tiga metode pemberian indeks terhadap kertas kerja:
a.    Indeks angka
b.    Indeks kombinasi angka dan huruf
c.    Indeks angka berurutan
2.    Pemberian indeks pada kertas kerja
Faktor-faktor yang harus di perhatikan dalam pemberian indeks pada kertas kerja yaitu:
a.    Setiap kertas kerja harus diberi indeks
b.    Pencantuman indeks silang harus dilakukan sebagai berikut:
v Indeks silang dari skedul pendukung ke skedul utama
v Indeks silang dari skedulakun pendapatan dan biaya
v Indeks silang dari skedul pendukung
v Indeks silang dari skedul pendukung dan ringkasan jurnal adjustment
v Indeks silang dari skedul utama ke working trial balance
v Indeks silang dapat digunakan pula untuk menghubungkan program audit dengan kertas kerja
c.    Jawaban konfirmasi, pita mesin hitung, prin out computer dan sebagainya tidak diberi indeks kecuali dilampirkan dibelakang kertas kerja yang berindeks

F.            SUSUNAN DAN PENGARSIPAN KERTAS KERJA
1.    Susunan Kertas Kerja
Akuntan senior yang akan mereview kertas kerja biasanya menghendaki susunan kertas kerja dalam urutan berikut ini:
a.    Daftar laporan audit
b.    Laporan keuangan auditan
c.    Ringkasan informasi bagi reviewer
d.   Program auditan
e.    Laporan keuangan atau lembaga kerja yang dibuat oleh klien
f.     Ringkasan jurnal adjustment
g.    Working trial balance
h.    Skedul utama
i.      Skedul pendukung

2.    Pengarsipan Kertas Kerja
Untuk memudahkan akses dan pemeliharaannya, dokumen KKA perlu dipilah dalam beberapa kategori, pada umumnya terdapat empat kategori berkas KKA, yaitu:
a.    Berkas permanen
Berkas permanen berisikan data/informasi yang diperlukan oleh auditor untuk memahami gambaran umum audit. Dilihat dari dimensi wakt, informasi yang dimasukkan kedalam berkas permanen adalah informasi yang relatif tidak sering berubah.dengan adanya berkas permanen, auditor tidak perlu meminta informasi tersebut pada audit setiap tahun atau setiap kali akan melaksanakan audit. Jenis informasi yang dimaksudkan dalam berkas permanen antara lain meliputi : data organisasi audit, kebijakan dan prosedur operasi, kebijakan akuntansi dan pengendalian internal, dan informasi administratif berkaitan dengan penugasan audit. Data organisasi meliputi : struktur organisasi dan uraian tugas, sejarah dan uraian pokokdan fungsi audit, daftar lokasi unit-unit dibawah organisasi audit, kontrak dan perjanjian penting (jika ada),daftar personil kunci, daftar pihak yang mempunyai hubungan istimewa, serta ketentuan hukum dan perundan-undangan terkait.
b.    Berkas berjalan
Berkas berjalan berisikan informasi yang berkaitan dengan audit yang sedang dilakukan atau audit yang baru lalu. Terdapat dua sub klasifikasi untuk informasi yang dimaksukkan dalam berkas berjalan, yaitu: berkaas umum dan berkas analisis
Berkas umum terdiri atas : surat penugasan audit, informasi umum, hasil pertemuan awal, program audit, manajemen waktu audit, ikhtisar temuan audit, draf laporan audit, tanggapan audit, pertemuan akhir dan tindak lanjut hasil audit
Berkas analisis, memuat dokumentasi rinci atas proses pengumpulan dan pengujian bukti audit untuk masing-masing data yang dicakup dalam penugasn audit.
c.    Berkas lampiran
Berkas ini Berkas ini berisikan lampiran data, catatan dan dokumen yang menjadi data mentah bagi proses pengujian bukti audit. Informasi mengenai proses dan hasil pengujiannya sendiri dimasukkan dalam berkas audit analisis
d.   Berkas khusus
Berkas ini berisikan informasi yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Sebagian besar informasi ini berkaitan dengan indikasi kecurangan yang perlu ditindak lanjuti dengan pemeriksaan khusus. Kertas kerja audit harus disusun dalam satu berkas dan diserahkan oleh ketua tim kepada sub bagian tata usaha wilayah untuk diarsipkan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar